BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Di dalam tubuh manusia terdapat sisitem koordinasi yang akan mengatur agar semua organ dapat bekerja secara serasi. System koordinasi itu bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya, dan kemudian meneruskannya untuk menanggapi rangsangan tadi. Rangsangan merupakan informasi yang dapat di terima hewan. Informasi tersebut dapat berupa informasi yang internal maupun yang eksternal. Rangsang eksternal (berasal dari lingungan di luar tubuh hewan) dapat berupa sasuatu hewan. linitas (kadar garam), suhu udara, kelembapan, dan cahaya. Sedangkan rangsangn yang berasal dari dalam tubuh hewan (internal) dapat berupa suhu tubuh, keasaman (pH) darah/cairan tubuh, kadar gula darah, dan kadar kalsium dalam darah. Untuk dapat menerima rangsangan dan menghasilkan tanggapan dengan baik, hewan harus memiliki alat untuk menerima rangsang dan untuk menghasilkan tanggapan terhadap rangsang yang datang.. alat yang di gunakan untuk menerima rangsang yang disebut sebagai reseptor yang sangat bertalian erat dengan system koordinasi yang di miliki oleh semua makhluk hidup khususnya hewan.
Reseptor
atau penerima merupakan suatu struktur yang mampu mendeteksi rangsangan
tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Organ indra kita adalah
reseptor (penerima rangsang). Pada indra terdapat ujung-ujung saraf sensori
yang peka terhadap rangsang tertentu. Rangsangan yang di terima di teruskan
melalui serabut sraf sebagai impuls saraf. Sedangkan efektor merupakan struktur
yang melaksanakan aksi sebagai jawaban terhadap impuls yang datang padanya.
Efektor yang penting pada hewan adalh otot dan kelenjar.
1.2 . Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang diatas dapat kita memberikan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apakah yang di maksud dengan reseptor?
2. Bagaimanakah struktur reseptor?
3. Bagimanakah mekanisme penerimaan rangsang oleh reseptor?
4. Apakah yang di maksud dengan efektor?
5. Bagaimanakah struktur efektor?
6. Bagaimanakah mekanisme respon tanggapan oleh efektor?
1.3 . Tujuan
Dari
rumusan masalah diatas dapat kita berbagai tujuan antara lain.
1. Mengetahui dan memahami yang di maksud dengan reseptor.
2. Mengetahui struktur resepror.
3. Mengetahui mekanisme penerimaan rangsang oleh reseptor.
4. Memahami apa itu reseptor.
5. Mengetahui struktur efektor.
6. Mnegetahui mekanisme atau cara kerja efektor.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1. Reseptor
Informasi
mengenai keadaan lingkungan yang dapat di terima hewan sangat beragam, antara
lain suhu, kadar garam, cahaya, kelembapan, dan tekanan udara. Berkaitan dengan
hal tersebut, alat penerima rangsang (reseptor) yang di miliki hewan juga
beragam. Berarti reseptor pada hewan harus dapat berfungsi untuk menrima
berbagai jenis informasi. Reseptor
adalah bagian dari sistem syaraf yang berperan sebagai penerima rangsangan dan
sekaligus sebagai pengubah rangsangan yang diterimanya menjadi impuls sensoris.
Impuls sensoris inilah yang dikirimkan ke Sistem Syaraf Pusat. Stimulasi pada
suatu reseptor merupakan informasi mengenai terjadinya perubahan dari
lingkungan eksternal dan internal tubuh terhadap Sistem Syaraf Pusat.
Selanjutnya, Sistem Syaraf Pusat akan mengolahnya dan memberikan jawaban berupa
pengaturan yang sesuai, sehingga kelestarian hidup tetap terjamin dan
terpelihara kelangsungannya. Stimulus, merupakan suatu bentuk energi yang
banyak ragamnya di alam ini.
Bentuk-bentuk
energi tersebut adalah energi mekanis-tekanan, energi thermis-derajad suhu,
energi khemis-bau,rasa, kadar O2 dan kadar CO2, energi cahaya-gelombang cahaya,
energi suara-gelombang suara. Masing-masing reseptor disesuaikan untuk
memberikan respons pada suatu bentuk energi tertentu. Bentuk energi khusus yang
memberikan respons reseptor paling peka disebut rangsangan adekwat. Reseptor
sering kali berada di dalam suatu wadah yang terbuat dari sel-sel non syaraf,
membentuk suatu organ sensorik (mata,telinga dan lain-lain). Reseptor rasa bagi
asam-asam amino telah diidentifikasi.
1. Klasifikasi
Reseptor Pada umumnya, reseptor bekerja secara khusus. Artinya reseptor tertentu hanya akan
menerima rangsang jenis tertentu. Jadi, dalam satu individu hewan, dapat di
temukan berbagai macam reseptor. Reseptor dapat di kelompokkan dengan berbagai
cara, yaitu berdasarkan struktur, lokasi sumber rangsang dan jenis/sifat
rangsang yang dapat di terima oleh reseptor tersebut.
2.1.1 Berdasarkan
strukturnya, reseptor di bagi menjadi dua yaitu:
a. Reseptor saraf
Merupakan
reseptor saraf yang paling sederhana, yang hanya berupa ujung dendrite dari
suatu sel saraf (tidak memiliki selubung mielin), dapat di temukan pada
reseptor nyeri nosiseptor.
b. Reseptor nonsaraf
Merupakan struktur saraf yang lebih rumit
dapat di temukan dalam organ pendengaran vertebrata (berupa sel rambut) dan
pada organ penglihatan (berupa sel batang dan kerucut). Reseptor ini merupakan
resepptor khusus dan bukan reseptor saraf.
2.1.2 Berdasarkan
jenis rangsang yang dapat di terimanya, reseptor dapat di bedakan menjadi enam
a. Kemoreseptor, reseptor yang menerima rangsang berupa
rangsangan zat kimia.
b. Termoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan suhu.
c. Mekanoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan mekanik.
d. Fotoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan cahaya.
e. Megnetoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan medan magnet.
b. Termoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan suhu.
c. Mekanoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan mekanik.
d. Fotoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan cahaya.
e. Megnetoreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang berupa rangsangan medan magnet.
f. Elektroreseptor, reseptor yang menerima rangsang yang
berupa rangsangan listrik.
2.1.3 Berdasarkan lokasi sumber rangsang yang dapat di terimanya, reseptor di bedakan menjadi dua jenis
2.1.3 Berdasarkan lokasi sumber rangsang yang dapat di terimanya, reseptor di bedakan menjadi dua jenis
1.
Interoreseptor, merupakan reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsang dari
dalam tubuh. Contoh interoreseptor ialah kemoreseptor untuk memantau pH, kadar
gula, dan kadar kalsium dalam cairan tubuh.
2.
Eksteroreseptor, berfungsi untuk menerima rangsang dari lingkungan diluar tubuh
hewan. Contoh ekteroreseptor ialah reseptor penerima gelombang suara (pada alat
pendengaran) dan reseptor cahaya (mata). Dalam system saraf, rseptor biasanya
berhubungan dengan saraf sensorik, sedangkan efektor berhubungan dengan saraf
sensorik, sedangkan efektor berhubungan dengan saraf motorik. Reseptor bertugas
sebagai transduser (pengubah energy) yang mengubah energy dari suatu bentuk
energy yang lain. Pada saat sampai di reseptor, semua energy dalam bentuk
apapun akan segera di ubah menjadi energy listrik, yang selanjutnya akan
membawa kepada perubahan elektrokimia sehingga timbul potensial aksi.
2.2 Mekanisme Kerja dan Struktur Reseptor
Cara
berfungsinya reseptor yaitu, apabila suatu jens reseptor menerima rangsang yang
sesuai maka membrane reseptor tersebut akan mengalami serangkaian pristiwa yang
menyebabkan timbulnya potensial aksi pada bagian tersebut. Potensial aksi yang
terbentuk di namakan potensial reseptor atau potensial local. Dalam hal ini,
potensial aksi tidak menjalar ke bagian lainnya. Namun, jika rangsang yanjg di
terima reseptor cukup kuat, potensial reseptor yang timbul akan lebih besar..
makin besar rangsang yang di terima, makin besar pula potensial local yang di
hasilkan, hingga dapat melampaui batas ambang perangsangan pada membrane.
Apabila hal ini terjadi, potensial aksi akan menyebar ke membrane di
sebelahnya, hingga ke sel saraf aferen, bahkan ke membrane sel berikutnya.
Dalam keadaan yang demikian, potensial aksi yang terbentuk pada reseptor di
namakan potensial generator. Misalnya pada mekanoreseptor mempunyai pintu ion
yang akan berubah keadaannya, menjadi terbuka atau tertutup, akibat terjadinya
deformasi mekanik pada pintu ion tersebut. Deformasi mekanik ialah
perubahan bentuk protein penyusun pintu ion akibat rangsang mekanik, misalnya
sentuhan atau peningkatan tekanan. Saat istirahat, protein penyusun pintu ion
memperlihatkan bentuk fisik tertentu sehingga jalan masuk ion dalam keadaan
tertutup. Rangsang mekanik yang sampai pada reseptor tersebut akan menyebabkan
bentuk fisik protein penyusun pintu ion berubah sedemikian rupa sehingga pintu
untuk ion tertentu akan terbuka. Ketika deformasi mekanik mennghasilkan
pembukaan pintu ion Na+, ion tersebut akan berdifusi ke dalam sel. Hal ini
meyebabkan depolarisasi membrane mekanoreseptor. Mekanisme
timbulnya depolarisasi pada reseptor tersebut sama seperti yang terjadi pada
sel saraf. Supaya hewan dapat memberikan tanggapan yang sesuai dengna rangsang
yang di terimanya misalnya sentuhan, potensi local yang timbul pada reseptor
harus dijalarkan keseluruh bagian system saraf. Dengan demikian, potensial yang
terbentuk pada reseptor harus berupa potensial generator.
Reseptor nyeri/sakit merupakan reseptor yang menunjukkan kemampuan beradaptasi tonik. Bagi reseptor nyeri, kemampuan beradaptasi tonik merupakan hal yang penting karena timbulnya rasa sakit merupakan tanggapan yang bertujuan untuk melinddungi tubuh. Apabila reseptor nyeri memperlihatkan gejala adaptasi fasik, hewan terancam bahaya yang besar karena tidak akan berusaha menghindari rangsanng tersebut. Padahal,rangsang yang menyakitkan pada umumnya berpotensi menimbulkan kerusakan. Ooleh karena itu, jelas bahwa gejala adaptasi tonik pada reseptor nyeri sangat menguntungkan hewan.
Reseptor nyeri/sakit merupakan reseptor yang menunjukkan kemampuan beradaptasi tonik. Bagi reseptor nyeri, kemampuan beradaptasi tonik merupakan hal yang penting karena timbulnya rasa sakit merupakan tanggapan yang bertujuan untuk melinddungi tubuh. Apabila reseptor nyeri memperlihatkan gejala adaptasi fasik, hewan terancam bahaya yang besar karena tidak akan berusaha menghindari rangsanng tersebut. Padahal,rangsang yang menyakitkan pada umumnya berpotensi menimbulkan kerusakan. Ooleh karena itu, jelas bahwa gejala adaptasi tonik pada reseptor nyeri sangat menguntungkan hewan.
2.3 Reseptor Dan Efektor
Rangsang yang masuk dalam
organisme ada dua, yaitu : rangsang dari dalam dan rangsang dari luar.
Efektor adalah alat penghasil
tanggap yang tanggapannya dapat terlihat ( gerak tubuh) dan tidak dapat terlihat (sekresi hormon) kemudian yang dihasilkan dari tanggapan tersebut tergantung dari jenis
rangsang dan efektornya. Proses tanggapan ada tiga macam : tanggapan perubahan
gerak, tanggapan perubahan warna dan tangggapan perubahanpelepasanarus.
2.4 Sistem Rangka Hewan
Rangka hidrostatis terdapat
pada Invertebrata yang bertubuh luna, fungsinya mirip dengan gerakan Amuboid. Rangka
luar terdapat di luar tubuh, fungsinya melindungi diri
danpelekat otot. Rangka dalam terdapat di dalam tubuh Vertebrata, pada invertebrate rangka mengandung berbagai garam kalsium dan fungsi sama dengan hewan lain.
Cara kerja reseptor contohnya
mekanoreseptor, mekanoreseptor masuk ke pintu ion terbuka dan tertutup kemudian
terjadi deformasi meknik ( perubahan bentuk protein penyusun pintu ion akibat
rangsang mekanik, misalnya sentuhan atau peningkatan tekanan). Rangsang dan tangggapan berhubungan rumit dan erat, kekuatan rangsang
tidak sama dengan kekuatan tanggapan maka terjadilah kemampuan reseptor
beradaptasi terhadap rangsang, yaitu : reseptor beradaptasi degan cepat dan
reseptor beradaptasi dengan lambat.
Efektor adalah alat penghasil
tanggapan baik yang terlihat (gerakan tubuh) maupunyang tidak terlihat (sekresi
hormon) yang dihasilkannya tergantung dari jenis jaringan rangsang dan jenis
efektor. Proses tanggapan ada tiga : tangggapan perubahan gerak, tanggapan
perubahan warna dan tanggapan pelepasan arus listrik. System gerak hewan ada
rangka hidrostatik, rangka luar dan rangka dalam.
Endokrinologi adalah cabang ilmu
biologi yang membahas tentang hormon dan aktivitasnya. Hormon adalah satu dari sistem komunikasi utama
dalam tubuh meskipun kadarnya hanya dalam jumlah yang sangat kecil namun dapat
menjalankan atau menghentikanproses-proses metabolik.
Komponen penyusun organ
endokrin yaitu : sel neurosekretori dan sel endokrin sejati.Klasifikasi hormone
bedasarkan struktur kimia : hormone protein, hormone steroid, hormone asam
amino dan zat kimia yang menyerupai hormone. Klasifikas hormone berdasarkan
fungsinya : hormone perkembangan, hormone metabolism, hormone trofik, hormone
pengatur meabolisme mineral dan air, hormone pengatur sisitem kardiovaskuler. Langkah-langkah sintesis : tanskripsi dan
translasi. Sisitem endokrin pada hewan vertebrata ada hipotalamus,
pituitari dan kelenjar endoktrin tepi.
Untuk
dapt menerima rangsang dan menghasilkan tanggapan dengan baik, hewan harus
memiliki alat yang berfungsi untuk menerima rangsang dan untuk menghasilkan
tanggapan terhadap rangsang yang datang. Alat penerima rangsang pada hewan
disebut reseptor, sedangkan alatpenghasil tangapan dinamakan efektor.
2.5 Pengelompokan dan Fisiologi reseptor
Informasi
mengenai keadaan lingkungan yang dapat diterima hewan sangat beragam, antara
lain suhu, kadar garam, cahaya, kelembapan dan tekanan udara. Berkaitan dengan
hal tersebut alat penerima rangsang atau reseptor yang dimiliki hewan juga
beraneka ragam. Berarti, reseptor pada hewan harus dapat berfungsi untuk
menerima berbagai jenis informasi.
Pada
umumnya reseptor bekerja secara khusus. aratinya, reseptor tertentu hanya akan
menerima rangsang jenis tertentu. Jadi dalam satu individu hewan, dapat
ditemukan bernagai macam reseptor.Reseptor dapat dikelompokkan dengan berbagai
macam cara, Yaitu berdasarkan setruktur , lokasi sumber rangsang, dan jenis
sifat rangsang yang dapat diterima oleh reseptor. Berdasarkan strukturnya ,
reseptor dapat dibedakan menjadi dua, yaitu reseptor saraf dan bukan saraf.
Berdasarkan jenis rangsang yang dapat diterimanya, reseptor dapat dibedakan
menjadi enam, Yaitu kemoreseptor, termoreseptor, mekanoreseptor, fotoreseptor,
magnetoreseptor, dan elektroreseptor. Secara berturut-turut, masing-masing
reseptor tersebut peka terhadap rangsang kimia, suhu, mekanik, cahaya , medan
magnet, dan medan listrik. Berdasarkan lokasi sumber rangsang yang dapat
diterimanya. Reseptor dapat dibedakan menjdi dua jenis, yaitu interoreseptor
dan eksteroreseptor. Interoreseptor merupakan reseptor yang berfungsi
untuk menerima rangsang dari dalam tubuh hewan. Contohnya adalah kemoreseptor
untuk memantau PH, kadar gula, kalsium dalam cairan tubuh.
Sementara, eksteroreseptor berfungsi untuk menerima rangsang dari lingkungan
diluar tubuh hewan. Contoh eksteroreseptor ialah reseptor penerima
gelombang suara (pada alat pendengaran) dan reseptor cahaya (mata).Dalam system
saraf, reseptor biasanya berhubungan dengan saraf sensorik, sedangkan sedangkan
efektor berhubungan dengan saraf motorik.
2.5.1 Penerimaan Rangsang Oleh Reseptor

2.5.2 Penerimaan Rangsang Kimia oleh Kemoreseptor
Dalam
proses penerimaan rangsang kimia (kemoresepsi), terjadi interaksi antara bahan
kimia dengan kemoreseptor membentuk kompleks bahan kimia-kemoreseptor. Kompleks
tersebut mengawali proses pembentukan potensial generator pada
reseptor, yang akan segera menghasilkan potensial aksi pada sel saraf sensoris
dan sel berikutnya sehingga akhirnya timbul tanggapan Proses pembentukan
potensial generator pada kemoreseptor sama seperti yang terjadi pada reseptor
yang lainnya. Bedanya, rangsang bagi kemoreseptor ialah zat kimia. Kemoreseptor
terdapat pada vertebrata maupun invertebrata. Pada insekta, kemoreseptor
terdapat pada bagian mulut, antenna, dan kaki.Pada umumnya, kemoreseptor ini
berupa rambut atau duri sensoris yang kaku, ukuran panjang dapat mencapai
beberapa millimeter dan ujungnya terbuka ke lingkungan luar.
Kemoreseptor
yang bersifat umum dan terdapat pada semua hewan ialah reseptor pengecap,
terutama untuk mengecap rasa pahit. Kemampuan untuk mengecap rasa pahit
menunjukkan fungs protektif karena rasa pahitbdianggap pengingat akan adanya
ancaman senyawa toksit potensial. Kemoreseptor juga penting untuk memantau
kadar O2 dan CO2dalam cairan tubuh serta untuk
menerima rangsang feromon.
2.5.3 Penerimaan Rangsang Mekanik oleh Mekanoreseptor
Proses
peneriman rangsang mekanik oleh mekanoreseptor dinamakan mekanoresepsi,
mekanisme sederhana yang diusulkan untuk
menjelaskan mekanoresepsi adalah sebagai berikut.
Saat sel dalam keadaan istirahat, pintu ion Na+ pada
membrane mekanoreseptor masih dalam keadaan tertutup. Rangsang mekanik yang
menekan reseptor menyebabkan membrane mekanoreseptor meregang. Peregangan
membrane mekanopreseptor tersebut menimbulkan perubahan konformasi protein penyusun
pintu ion Na+ . Pintu ion Na+ terbuka diikuti
terjadinya perubahan elektrokimia yang mendepolarisasikan mekanoreseptor.
Mekanoresepsi
dapat terjadi pada vertebrata maupu invertebrata, invertebrata memiliki
reseptor untuk menerima rangsangtekanan, suara, dan gerakan. Bahkan insekta
juga mempunyai mekanoreseptor pada permukaan tubuhnya, yang dapat memberikan
informasi mengenai arah angin, orientasi tubuh saat berada dalam ruangan, serta
kecepatan gerakan dan suara. Variasai reseptor akan akan tampak semakin jelas
apabila kita mengalami mekanoreseptor pada vertebrata. Pada vertebrata ,
mekanoreseptor bukan hanya dapat menerima rangsang tekanan atau sentuhan ,
melainkan ada yang mampu memantau panjang otot, bahkan berfungsi sebagai alat
pendengaran dan organ keseimbangan.
2.5.4 Penerimaan Rangsang Suhu oleh Termoreseptor
Pada
dasarnya, termoresepsi adalah proses mengenali suhu tinggi dan rendah serta
perubahan suhu lingkungan. Proses ini sangat penting bagi hewan, mengingat perubahan
suhu dapat berpengaruh suhu terhadap tubuh individu, peningkatan suhu secara
ekstrem akan mempengaruhi struktur protein dan enzim sehingga tidak dapat
berfungsi secara maksimal. Hl ini dapat mengganggu penyelenggaraan berbagai
reaksi metabolic yang penting.
2.5.5 Penerimaan Rangsang Cahaya oleh
fotoreseptor
Hampir
semua hewan dapat mendeteksi cahaya. Bahkan, hewan yang tidak memiliki struktur
fotoreseptor khusus, contohnya amoeba , ternyata juga dapat mendeteksi cahaya.
Struktur fotoreseptor berfariasi, dari yang paling sederhana berupa eye-spot
hingga struktur yang rumit dan terorganisasi dengan baik seperti yang dimiliki
vertebrata. Semua reseptor bekerja bekerja menurut prinsip yang sama. Perbedaan
cara kerja di antara reseptor hanya terletak pada jenis rangsang yang dapat
diterimanya.
2.5.6 Penerimaan Rangsang Listrik oleh Elektroreseptor
Alat
penerima rangsang berupa medan elektrik disebut elektroreseptor.
Elektroreseptor yang telah banyak dipelajari ialah reseptor yang terdapat pada
gurat sisi danAmpula Lorenzini.
2.5.7 Penerimaan Rangsang Medan Magnet Oleh Magnetoreseptor
Beberapa
jenis hewan memiliki kemampuan untuk berorientasi terhadap medan magnetic bumi.
Kemampuan semacam itu bermanfaat dalam navigasi, yang memungkinkan hewan
mengenali sumbu utara-selatan. Contoh hewan yang memilki kemampuan ini adalah
lebah madu, yang menggunakan medan magetik bumi untuk berkomunikasi. Ketika
terbang dari sarangnya dan menemukan sumber makanan baru, lebah menyampaikan
informasi dan tentang arah makanan tersebut pada lebah lainnya dengan cara
menunjukkan tarian tertentu. Hewan lain yang mampu menggunakan medan magnet
untuk kembali ke sarangnya ialah burung.
Cara kerja reseptor
:
Mekanoreseptor akan masuk ke
dalam pintu ion yang terbagi menjadi dua yaitu terbuka dan tertutup, dan
akhirnya menghasilkan deformasi mekanik. Deformasi mekanik adalah perubahan
bentuk protein penyusun pintu ion akibat rangsang mekanik, misalnya
sentuhan atau peningkatan sentuhan. Dari deformasi mekanik
tersebut akan menghasilkan bentuk fisik protein penyusun pintu ion berubah
sedemikian rupa sehingga pintu ion tertentu akan terbuka. Contoh mekano
respetor yaitu proses penerimaan rangsang berupa gelombang suara.
2.5.8 Mekanoresptor pada Vertebrata
Fungsi: Memantau panjang otot, Alat pendengaran Organ keseimbagan.
2.5.8.1Termoresptor
Termoresptor akan mengalami suatu proses mengenai suhu tinggi dan rendah serta perubahan suhu lingkungan sehingga akan mengakibatkan suhu menjadi naik, struktur protein dan enzim akan terganggu dan tidak akan berefungsi sehingga reaksi metaboliknya terganggu. Contoh pada insekta tedapat pada antena dan kaki pada mammalia dikulit dan hipotalamus.
Termoresptor akan mengalami suatu proses mengenai suhu tinggi dan rendah serta perubahan suhu lingkungan sehingga akan mengakibatkan suhu menjadi naik, struktur protein dan enzim akan terganggu dan tidak akan berefungsi sehingga reaksi metaboliknya terganggu. Contoh pada insekta tedapat pada antena dan kaki pada mammalia dikulit dan hipotalamus.
2.5.8.2.Fotoresptor
Struktur fotoresptor yaitu pada hewan sederhana terjadi secara eye-spot dan pada vertebrata terjadi secara rumit dan terorganisasi. Perbedaan cara kerjanya terlaetak pada jenis rangsangyang dapat diterimanya.
Struktur fotoresptor yaitu pada hewan sederhana terjadi secara eye-spot dan pada vertebrata terjadi secara rumit dan terorganisasi. Perbedaan cara kerjanya terlaetak pada jenis rangsangyang dapat diterimanya.
2.5.8.3 Elektroreseptor
Elektroresptor akan menghasilakan medan listrik yang dapat dihasilkan adari aktivitas otot yang didalamnya terdapat organ listrik yang dapat ditemukan pada hewan akuatik yang mampu dideteksi untuik pertahanan dirinya, tedapat pada jenis pisces.
Elektroresptor akan menghasilakan medan listrik yang dapat dihasilkan adari aktivitas otot yang didalamnya terdapat organ listrik yang dapat ditemukan pada hewan akuatik yang mampu dideteksi untuik pertahanan dirinya, tedapat pada jenis pisces.
2.5.8.4Magnetoresptor
Beberapa jenis hewan memiliki kemampuan untuk berorientasi terhadap medan magnetik bumi yaitu nafigasi antara utara dan selatan, Contoh pada lebah madu yang mampu berkomunikasi sehingga pada akhirnya dapat menemukan sumber makanan.
Beberapa jenis hewan memiliki kemampuan untuk berorientasi terhadap medan magnetik bumi yaitu nafigasi antara utara dan selatan, Contoh pada lebah madu yang mampu berkomunikasi sehingga pada akhirnya dapat menemukan sumber makanan.
2.6 Efektor dan Cara
Kerjanya
Efektor
ialah alat penghasil tangapan biologis, tanggapan yang dihasilkan efektor
sangat bervariasi, mulai dari tanggapan yang dapat dilihat secara jelas
menggunakan mata, sampai tangapan yang tidak terlihat mata. Contoh hormon yang
dapat mengubah ,metabolisme adalah insulin , yang mampu menurunkan kadar gula
dalam darah. Jenis tangapan yang dihasilkan oleh efektoor tergantung pada jenis
rangsang dan jenis efektornya.Beberapa jenis hewan memiliki kemampuan untuk
menghasilkan tanggapan berupa perubahan warna kulit, perubahan warna itu dapat
ditunjukkan pada hewan lain dalam satu spesies. Perubahan warna dapat terjadi
karena hewan memiliki kromatofor pada kulitnya. Kromatofor adalah sel yang
emngandung pigmen, dibawah kendali endikrin , kromatofor dapat mengubah
penyebaran pigmen pada sel pigmen dalam ukuran menit atau detik.
2.6.1 Tanggapan Berupa Pergerakan Intrasel
Pergerakan
intrasel dapat diamati pada hampir semua sel, misalnya pada sel saraf. Didalam
sel saraf selalu terjadi pergerakan , terutama pergerakan aliran sitoplasma
beserta sejumlah besar vesikel yang berisi neuriotransmiter. Aliran sitoplasma
itu disebut aliran sitoplasmik. Pada sel saraf, aliran tersebut sangat berguna
untuk membawa neutronsmiter yang disintesi di badan sel , kemudian diangkut ke
ujung akson untuk menyelenggarakan transmisi sinaptik, aliran sitoplasmik ini
terjadi pada amoeba.Gerakan sitoplasmik berupa gerakan yang teratur. Padas el
saraf pergerakan berlangsung dalam dua arah, yaitu dari badan sel ke ujung
akson dan sebaliknya .
2.6.2 Tanggapan berupa Pergerakan Ameboid
Pergerakan
ameboid merupakan pergerakan khas baik pada hewan uniseluler maupun sel hewan
muktiseluler. Pada hewan multiseluler, gerak amuboid terjadi pada sel darah
putih yang meningalkan aliran darah dan masuk ke dalam jaringan yang mengalami
radang. Gerak amuboid pada hewan bersel satu (amoeba) terjadi dengan membentuk
kaki semi(pseudopodia).
2.6.3 Tanggapan berupa Pergerakan Otot
Gerakan
pada otot juga melibatkan aktin dan myosin. Akan tetapi aktin dan myosin pada
otot tersusun secara teratur sehingga dapat menghasilkan kekuatan yang besar.
Gerakan otot sebenarnya merupakan akibat dari adanya tarik-menarik antara
filamen aktin dan myosin.
2.6.4 Tanggapan Berupa Pelepasan Arus Listrik
Sesungguhnya
pembentukan arus listrik dapat terjadi pada semua system reseptor, tetapi
pelepasan arus listrik oleh efektor hanya ditemukan pada beberapa jenis ikan.
Arus listrik pada ikan dihasilkan oleh organ elektrik.
Pelepasan
arus listrik dari tubuh ikan atau belut listrik dilakukan dengan membuat
gerakan khusus dengan mempertemukan daerah kepala dan ekor, dengan gerakan
tersebut terjadi pertemuan antara daerah bermuatan positif dan negative yang
menyebabkan pelepasan arus listrik ke lingkungannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Reseptor adalah bagian dari system syaraf yang berperan
sebagai penerima rangsangan dan sekaligus sebagai pengubah rangsangan yang
diterimanya menjadi implus sensoris. Reseptor dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
berdasarkan struktur, berdasarkan jenis rangsangan yang dapat diterimanya, dan
berdasarkan lokasi sumber rangsang yang dapat diterimanya.
Sedangkan efektor adalah alat penghasil tanggap yang tanggapanya dapat
dilihat ( garak tubuh ) dan tidak dapat terlihat ( skresi hormon ) kemudian
yang dihasilkan dari tanggapan tersebut tergantung dari jenis rangsang dan
efektornya.
Pengelompokan dan
fisiologi reseptor yaitu penerimaan rangsangan oleh reseptor, penerima rangsang
kimia oleh kemoreseptor, penerimaan
rangsangan mekanik oleh meganoreseptor, penerimaan rangsang suhu oleh
termoreseptor, penerimaan rangsang
cahaya oleh fotoreseptor, penerimaan rangsang listerik oleh
elektroreseptor, penerima rangsang madan magnet oleh magnetoreseptor, dan
mekano reseptor pada vertebrata.
kalo boleh tau, ini sumbernya dari mana ya?