MAKALAH TENTANG PROSES BELAJAR DI SEKOLAH

Rabu, 11 April 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Dewasa ini peran lembaga pendidikan sangat menunjang tumbuh kembang anak dalam berinteraksi maupun cara bergaul dengan orang lain. Selain itu, lembaga pendidikan tidak hanya sebagai wahana untuk system bekal ilmu pengetahuan, namun juga sebagai lembaga yang dapat memberi skill atau bekal untuk hidup yang nanti di harapkan dapat bermanfaat didalam masyarakat.
Sementara itu, lembaga pendidikan tidak hanya ditunjukkan kepada anak yang memiliki kelengkapan fisik, tetapi juga kepada anak yang memiliki keterbelakangan mental. Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya, sehingga perlu dibantu dan dikasihani. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu disediakan berbagai bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka. Pada dasarnya pendidikan untuk kebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak-anak pada umumnya.
Pada makalah ini, kami lebih menekankan proses belajar dalam lingkungan formal atau yang lebih sering dikenal dengan pendidikan di lingkungan sekolah. Bagaimana proses suatu belajar, hasil belajar, dan kemana sasaran belajar itu, bagaimana bentuk-bentuk kegiatan belajar itu, dan mengetahui apa arti belajar tuntas dan belajar afektif.



B.   RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang di atas dapat ditarik beberapa rumusan masalah mengenai proses belajar di sekolah, yaitu:
1.     Apa itu belajar proses dan belajar hasil?
2.     Kemanakah sasaran belajar itu?
3.     Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan belajar?
4.     Bagaimana cara untuk belajar tuntas?
5.     Apa itu belajar afektif?

C.   TUJUAN
Dari beberapa rumusan masalah yang dipaparkan di atas, maka dapat kita arahkan tujuan dari makalah ini, yaitu:
1.     Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik.
2.     Untuk mengetahui bentuk danpola dari pendidikan dilingkungan sekolah.
3.     Dan dapat digunakan sebagai bahan referensi atau acuan para mahasiswa untuk mempelajari cara belajar dilingkungan sekolah.












BAB II
PEMBAHASAN

A.   BELAJAR PROSES DAN BELAJAR HASIL
Kegiatan belajar yang berlangsung disekolah bersifat formal disengaja, direncanakan, dengan bimbingan guru, serta pendidik lainnya. Kegiatan belajar yang dilaksanakan di sekolah benar-benar direncanakan dan disengaja. Kegiatan belajar tersebut sangat diperlukan, mengingat semakin banyaknya dan semakin  tingginya tuntutan hidup masyarakat. Semakin tinggi taraf perkembanagan masyarakat maka semakin tinggi dan banyak tuntutan yang harus dipenuhi dan semakin banyak waktu belajar yang harus ditempuh.
Pelaksanaan pengajaran dengan penekanan kepada belajar proses dilatarbelakangi oleh konsep-konsep belajar menurut teori Naturalisme-Romantisme dan teori Kognitif-Gestalt. Naturalisme-Romantisme lebih menekankan kepada aktifitas siswa sedangkan kosep teori kognitif-gestalt menekanan pemahaman dan kesatupaduan yan menyeluruh.
Dalam pelaksanaan pengajaran yang menekankan proses sekarang dikenal pula dengan keterampilan proses, guru menciptakan bentuk pengajaran yan bervariasi agar siswa terlibat dalam berbagai pengalaman. Siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri hasil suatu kegiatan. Siswa melakukan pengamatan, percobaan, pengukuran, perhitungan dan membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri.
Dalam belajar model ini, siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama temannyadari manusia-manusia sumber diluar sekolah


B.   SASARAN BELAJAR
Belajar merupakan suatu upaya pengembangan seluruh kepribadian individu, baik dari segi fisik maupun psikis. Dalam proses belajar disekolah, sasaran belajar seperti ini sering dirumuskan sebagai tujuan pelajaran atau tujuan instruksional.
Tujuan belajar berdasarkan sasaran belajar sudah diatur dalam TAP MPR Nomor II tahun 1988, tujuan tersebut berbunyi: ’’Pendidikan nasional berdasaran pancasila, bertujuanntuk meningkatan kualitas manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, disiplin, bekerja keras, tangguh, beranggung jawab, mandiri, cerdas terampil serta sehat jasmanidan rohani. Disamping itu, pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan, dan rasa kesetiakawanan social.
Sejalan dengan itu, dikembankan iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri serta sikap dan perilaku inovatif dan kreatif. Dengan demikian pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

C.   BENTUK-BENTUK KEGIATAN BELAJAR
Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan siswa disekolah sangat ditentukan oleh model-model pengajaran yang diberikan oleh guru.
Bentuk kegiatan belajar-mengajar yang digunakan juga berkaitan erat dengan teori belajar yang digunakan. Kegiatan belajar mengajar yang berpegang pada teori behafioresme berbeda dengan teori naturalistic-romantisme, berbeda pula dengan teori kognitif-gestalt.
David P. Ausabel dan Floyed G. Robinson (1969) mengemukakan empat bentuk proses belajar mengajar, yaitu : belajar menerima, dan belajar menemukan, belajar bermakna dan belajar menghafal.
1.     Berlajar Discaveri (Dicoveri Learnig)
Mengenai belajar discaveri ada juga yang menyebutnya sebagai belajar inkuiri, tetapi pada dasarnya merupakan suatu kegiatan belajar yang mengutamakan aktifitas anak. Inkuiri menekankan pada proses mencarinya, sedangkan dicaveri kepada menemukannya.
Beberapa kelebihan belajar mengajar discaveri dibaningkan dengan strategi menerima :
a)           dalam penyampean bahan, stragegi discaveri menggunakan kegiatan dan pengalaman-pengalaman langsung dan kongkrit. Kegiatan dan pengalaman demikian lebih menarik perhatian, dan memungkainkan pembentukan konsep-konsep abstrak yang mempunyai makna.
b)          Strategi belajar mengajar discaveri lebih realistis dan mempunyai makna, sebab siswa bekerja langsung dengan contoh-contoh nyata. Siswa langsung mengaplikasikan kemampuannya.
c)           Strategi belajar mengajar dicaveri merupakan suatu model pemecahan masalah. Para siswa belajar langsung menerapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah pemecahan masalah.
d)          Transfer tidak dinantikan sampe kegiatan lain, tetapi langsung dilakukan, sebab strategi dicaveri berisi sejumlah transfer.
e)           Steratigi discaveri banyak memberikan kesepatan bagi keterlibatan sisiwa dalam situasi belajar. Kegiatan demikian akan banyak membangkaitkan motivasi belajar, sebab kegiatan belajar akan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa.
Disamping kelebihan, sterategi discaveri juga memiliki beberapa kelemahan seperti :
1)    keterbatasan waktu
2)    kterbatasan berfikir
3)    kesukaran dalam menggunakan factor subjektivitasnya, terlalu cepat sampai kesimpulan, membuat geralisasi yang terlalu umum dari pengalaman yang sangat terbatas.
4)    Keterbatasan kebudayaan atau kebiasaan.

Para ahli membedakan enam tingkatan belajar mengajar discaveri yaitu:
1)    tingkat discaveri penuh, pada tingkat siswa memiliki kebebasa penuh untuk mentukan bahan dan bentuk kegiatan yang akan mereka lakukan.
2)    Pengarahan pada tingkat pemikiran siswa, guru memberikan pengarahan yang sesuai dengan tingkat pemikiran siswa, selanjutnya mereka diberi kebebasan untuk mengadakan geralisasi dan spesifikasi.
3)    Pemberian istruksi yang pelaksanaannya diserahkan kepada para siswa, guru memberika beberapa istruksi terntang hal-hal yang hendaknya dikerjakan, tetapi pelaksanaanya diserahkan pada inisiatif dan keratifitas para siswa.
4)    Guru memberikan sejumlah persoalan, yang penyelesaiannya dilakukan oleh siswa.
5)    Guru memberikan pengarahan tentang suatu gegeralisasi atau spesifikasi, lalu para siswa diminta untuk mencari contoh-contoh atau menemukan pemecahan masalahnya sendiri.
6)    Guru memberikan suatu generalisasi tampa penjelasan, penguraian dan contoh-contoh, kemudian para sisw diminta untuk menggunakannya untuk kegiatan-kegiatan berikutnya.
2.     Belajar Bermakna Dan Belajar Menghafal
Dalam belajar menghafal, siswa berusaha menerima dan memahami bahan yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna. Dalam belajar bermakna ada dua hal penting, pertama bahan yang dipelajari dan yang kedua adalah struktur kognitif yang ada pada individu. Yang dimaksud dengan struktur kognitif adalah jumlah, kualitas, kejelasan dan pengorganisasian dari pengetahuan yang sekarang dikuasai oleh individu.
Syarat-syarat agar tercipta proses belajar bermakna, yaitu:
a.     bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara beraturan.
b.     siswa memiliki konsep yang sesuai dengan bahanyang akan dihubungkan.
c.      siswa harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep tersebut dengan kemampuan kognitifnya secara beraturan.

D.   BELAJAR TUNTAS
Belajar tuntas adalah suatu upaya belajar dimana siswa dituntut menguasai hampir semua bahan ajaran.
Beberapa tokoh belajar tuntas berpendapat bahwa sekitar 95% dari anak sesungguhnya dapat menguasai secara tuntas bahan pelajaran yang diberikan.
Beberapa prinsip belajar tuntas yang diperkenalkan atau dikemikakan leh para ahli, yaitu:
1.     sebagian siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian besar bahan yang diajar.
2.     Guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa.
3.     sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajaran menjadi satuan bahan ajaran yang kecil yang mendukung pencapaian sekelompok tujuan khusus tersebut.
4.     selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
5.     penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan normal, tetapi menggunakan acuan patokan.
6.     konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan individual. Prindip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dulu kepada satuan pelajaran berikutnya.
Konsep belajar tuntas dapat dilaksanakan dengan beberapa model pengajaran, tetapi yang paling tepat adalah dengan model system instruksional. Seperti pengajaran berprogram.

E.    BELAJAR AFEKTIF
Belajar afektif merupakan sebuah model belajar yang digunakan oleh guru yang penekanannya berada pada partisipasi atau keaktifan siswa didalam kelas.
Ada beberapa model belajar mengajar afektif yang dikemukakan oleh beberapa ahli, seperti berikut:
1.     Model konsiderasi
Manusia sering kali bersifat egois, lebih memntingkan diri sendiri, apatis, dan sibuk mengurusi diri sendiri. Dengan adanya model pembelajaran konsidersi ini siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.
Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi, antara lain:
a.     Menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi.
b.     Meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
c.      Siswa menuliskan responnya masing-masing.
d.     Siswa menganalisis respon siswa lain.
e.      Mengajak siswa melihat konsekuensi dari tiap tindakannya.
f.       Meminta siswa menentukan pilihannya sendiri.
2.     Model pembentukan rasional
Model pembentukan rasional yaitu model pembelajaran yang menekankan kesadaran siswa pada nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan. Model pembentukan rasional ini juga bertujuan untuk mengembangkan kematangan berpikir pada siswa tentang nilai-nilai moral.
Langkah-langkah model pembelajaran pembentukan rasional:
a.     Mengidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atau penyimpangan tindakan.
b.     Menghimpun informasi tambahan.
c.      Menganalisis situasi dengan berpegang teguh pada norma-norma yang berlaku.
d.     Mengambil tindakan dengan mempertimbangkan akibat yang ditimbulkannya.



BAB III
PENUTUP

A.   KESIMPULAN
Secara garis besar, ada dua pendekatan dalam belajar,yaitu: pendekatan yang menekankan hasil dengan proses belajar. Pendekatan yang menekankan hasil dilatar belakangi oleh psikologi daya dan behaviorisme. Dalam pendekatan tersebut yang diutamakan adalah penguasaan hasil atau target belajar.
Tujuan belajar berdasarkan sasaran belajar sudah diatur dalam TAP MPR Nomor II tahun 1988, tujuan tersebut berbunyi: ’’Pendidikan nasional berdasaran pancasila, bertujuanntuk meningkatan kualitas manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, disiplin, bekerja keras, tangguh, beranggung jawab, mandiri, cerdas terampil serta sehat jasmanidan rohani. Disamping itu, pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan, dan rasa kesetiakawanan social.
Disamping itu, untuk mempermudah dalam proses belajar mengajar maka dapat dilakukan beberapa tekhnik atau cara pendekatan belajar seperti: model belajar konsidersi, pembentukan nilai rasional, dan klarifikasi nilai, atau model belajar seperti behaviorisme dan kunstruktufistik.





B.   SARAN
Dalam sebuah proses belajar, dibutuhkan metode atau pendekatan cara belajar yang tepat untuk mendapat hasil yang baik. Disamping itu pula, pemilihan metode belajar yang benar juga akan mempengaruhi proses belajar serta perkembangan dari peserta didik itu sendiri.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang perlu ditambah dan diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan inspirasi dari para pembaca dalam hal membantu menyempurkan makalah ini. Untuk terakhir kalinya penulis berharap agar dengan hadirnya makalah ini akan memberikan sebuah perubahan khususnya dunia pendidikan.

0 komentar:

Poskan Komentar

beri makan ikan Aku